Tuesday, January 18, 2011

Contoh Pendahuluan Skripsi Pariwisata

Pariwisata dan peziarahan telah lama dikatan berhubungan erat (lihat McCannel, 1999: 6-11 dan Cohen, 1979: 190). Walau begitu, hubungan antara wisatawan dan agama dan konteks agama yang mereka kunjungi telah lama diabaikan. Mengapa wisatawan pergi ke berbagai tempat yang memiliki arti religius dan bagaimana mereka menilai perjalanan mereka adalah pertanyaan-pertanyaan penting baik pada bidang pariwisata maupun agama. Skripsi ini khususnya memandang para wisatawan yang terlibat dalam praktek religius atau memiliki semacam pengalaman spiritual dalam konteks religius.
Disini penulis menyebutnya ‘wisatawan spiritual’. Apa yang dapat diungkapkan oleh studi pada pengalaman mereka dapat memberi informasi mengenai sifat pengalaman wisata dan posisi agama dalam masyarakat. Pola ini ditunjukkan dalam konteks catatan perjalanan, dimana kisah-kisah transformasi diri dan penemuan diri sering menjadi standar.
Apakah pengalaman dan perilaku wisatawan demikian sama dengan pengalaman peziarah merupakan titik awal yang relevan, karena secara historis interaksi antara agama dan perjalanan berevolusi disekitar titik ini. Walau begitu, ada pertanyaan-pertanyaan lebih jauh yang diajukan wisatawan spiritual, karena moda perjalanan mereka terhitung unik. Salah satu kunci membedakan faktor-faktor peziarahan adalah kadang ia dibentuk oleh keinginan akan adanya semacam perubahan dan keyakinan yang dapat diperoleh di lokasi ziarah (lihat Turner, 1972: 192-197 dan Reader, 1993: 22). Wisata di sisi lain memiliki posisi yang berbeda secara fungsional maupun sosial. Sederhananya, kita merasa wisata semata ‘jalan-jalan’. Sementara peziarahan dapat terlihat sebagai tindakan religius, wisata tampak sebagai tindakan sekuler. Karenanya, peziarahan dan wisata, walaupun beroperasi dalam makna berbeda, dapat memiliki daerah irisan yang signifikan. Kita bisa melihat kalau ada banyak wisatawan mengalami pengalaman seperti peziarah, dan peziarah yang tak dapat dibedakan dari wisatawan. Pengalaman wisatawan yang seperti peziarah adalah pengalaman yang ingin penulis teliti. Wisatawan spiritual adalah sebagian besar berasal dari wisatawan biasa. Namun, apa yang membedakannya adalah mereka mencari latar dan pengalaman religius. Mereka berbeda dari peziarah karena mereka tidak mesti harus berasal dari satu agama tertentu (atau setidaknya sama dengan agama dari lokasi perjalanan yang mereka tuju sebagai wisatawan), dan mereka tidak mesti berada di sana atas alasan yang sama dengan peziarah.
Skripsi ini akan memeriksa pemaparan wisatawan spiritual yang ditemukan dalam catatan perjalanan dan media cetak, dan akan memeriksa buku dan situs panduan wisata yang relevan.
Walau begitu, sebelum memulai analisis kompleks demikian, landasan metodologis dan teoritis harus dibangun. Teori-teori yang terkait baik dengan peziarahan dan wisata akan diperiksa untuk membangun kerangka dimana didalamnya wisatawan spiritual demikian dapat dipelajari. Selain itu, teori mengenai modernitas dan postmodernitas serta proses sekulerisasi akan dipelajari, karena ia akan menjelaskan fenomena wisata spiritual dalam berbagai cara yang dipandang oleh arus budaya ini. Dengan topik-topik ini sebagai landasan teoritis, penulis akan melihat pada fungsi dan peran yang dimainkan wisata demikian, dan berspekulasi mengenai bagaimana wisata spiritual ditunjukkan dan dipasarkan pada wisatawan.
Bagi ilmuan yang mempelajari wisatawan spiritual, terutama mengenai peziarahan dan wisata, tidak ada teori multi disiplin. Hal ini adalah tema umum dalam pendahuluan literatur akademis mengenai peziarahan dimana mereka mengeluh tidak adanya publikasi teoritis tentangnya. Untungnya, hal ini tidak terjadi pada catatan perjalanan. Kita cukup berjalan ke toko buku dan mencari banyak buku yang diterbitkan oleh wisatawan mengenai pengalaman mereka berwisata. Dapat dikatakan kalau ia adalah industri miniatur yang dibentuk untuk menjadi wadah bagi wisatawan spiritual yang ingin menerbitkan catatan perjalanan, otobiografi, buku panduan dan parafrenalia lainnya untuk konsumsi mereka. Walau begitu, penelitian penulis hingga kini tetap menemukan sedikit sekali cara untuk menjelaskan secara etnografis tipe wisatawan ini bahkan dengan cara yang paling sederhana sekalipun, walaupun ada sedikit mengenai wisatawan secara umum. Sungguhpun demikian, dari tipe sumber referensi utama inilah penulis berusaha menariknya.
Dalam sumber-sumber ini, kita menemukan interaksi menarik antara peziarahan, ritus ziarah, jalan-jalan, voyeurisme budaya, sekularisme, religiusitas, identitas, pencari dan pencarian makna sebagai beberapa konsep dari kategori yang lebih luas lagi. Karenanya kita dapat menemukan jawaban dari banyak pertanyaan kita mengenai wisatawan spiritual, seperti siapa mereka, dan dimana motivasi mereka untuk melakukan perjalanan tersebut berasal. Ia juga mengungkapkan tipe eksplorasi spiritual apa yang menjadi landasan mereka, dan apa makna yang mereka peroleh dari pengalaman tersebut. Apa yang menarik mereka, dan bagaimana lokasi dan/atau aktivitas (religius atau bukan) dipasarkan kepada mereka, dan apakah konteks agama membenarkan perasaan tertentu yang terjadi dan juga membawa pada petunjuk sesuai ajaran agama tersebut.
Walau begitu, pertanyaan inti yang ingin dijawab oleh penulis dalam skripsi ini berputar pada fakta kalau sebagian wisatawan melakukan perjalanan untuk mengalami hal-hal religius atau spiritual. Apakah itu dalam kasus bahwa mereka mencari ‘kebenaran’ suatu agama, atau apakah mereka ingin mencoba wisata spiritual sebagai alternatif wisata yang sering mereka lakukan, inilah yang ingin dipelajari. Mungkin ini merupakan petunjuk kalau perjalanan spiritual memiliki peran ganda untuk memenuhi kebutuhan agama sekaligus melepas lelah. Dalam kasus manapun, penulis cenderung berpendapat kalau subtipe wisatawan spiritual adalah sah dan berguna untuk mempelajari agama di dunia sekarang ini. Mereka dapat membantu kita memahami lebih baik trend yang bergulir dalam religiusitas masyarakat.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment